Posts tagged ‘aviation’

Strategi Pemasaran Airlines Melalui Internet


Internet  telah menjadi saluran distribusi strategis untuk penjualan berbagai macam produk, termasuk tiket pesawat. Untuk beberapa maskapai penerbangan di luar negeri, terutama low cost carrier, penjualan melalui internet mungkin merupakan satu-satunya alat distribusi bagi produk mereka.

Di Indonesia, menurut Internet World Stat (IWS), sampai dengan akhir 2009, pengguna internet mencapai lebih dari 30 juta orang, atau sekitar 13 % dari total penduduk Indonesia yang mencapai 234 juta jiwa.

Seiring dengan pertumbuhan ekonomi di daerah-daerah yang mendorong peningkatan pengguna internet di Indonesia, sudah saatnya bagi maskapai untuk berpikir tentang memanfaatkan internet atau bisnis online sebagai salah satu batu kunci kebijakan pemasaran mereka dan menjadikan website sebagai salah satu saluran distribusi penjualan tiket.

Berikut adalah hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam hal pembuatan konsep website sebuah Airlines.

1.       Sasaran Pengguna / Pelanggan

Penjualan melalui website ditujukan kepada dua kategori pengguna, yaitu : pelanggan langsung /customer (B2C) dan bisnis (B2B).

Website yang diarahkan kepada pelanggan langsung (B2C) harus mempertimbangkan faktor-faktor : segmentasi pelanggan (bisnis, wisata, dan lain-lain) dan juga karakteristik pelanggan dalam hal penggunaan  internet (ahli, sehari-hari bekerja dengan internet, atau hanya sekali-sekali).

Website yang ditujukan untuk bisnis (B2B),  untuk agen-agen perjalanan, corporate account, atau pihak lain  yang merupakan bagian dari saluran distribusi .

Dalam setiap kasus (B2C atau B2B), persyaratan untuk penyediaan layanan yang optimal akan berbeda.

Setiap pengguna akan melibatkan profil dan kebutuhan yang berbeda, hal ini harus diidentifikasi dan kemudian diantisipasi secara efisien. Sehingga fitur-fitur yang tercantum di dalam website akan mempunyai nilai tambah dan mendukung kelancaran transaksi penjualan.

2.       Kemampuan untuk menciptakan transaksi

Sebuah website yang terdefinisi dengan baik akan mempunyai kemampuan untuk menciptakan transaksi,  mengubah dari yang hanya pengguna menjadi pelanggan. Tidak semua orang yang mengunjungi  website  akan berakhir melakukan pembelian,  tetapi jika dikelola dengan baik, sebuah website akan mempunya pengaruh yang kuat untuk menciptakan  transaksi-transaksi penjualan.

Setiap elemen dari website tersebut harus diarahkan untuk mencapai tujuan ini. Tampilan, fitur, dan konten harus bisa mengekspresikan nilai-nilai perusahaan  serta harus bisa menyakinkan dan menarik perhatian pelanggan.

3.       Kemudahan Transaksi

Seorang pengguna mungkin tertarik pada tawaran yang luar biasa yang terdapat pada headline sebuah website. Tapi cara yang paling umum adalah adanya kecendrungan orang untuk langsung mengakses mesin pencari penerbangan yang tersedia.

Adalah penting  bahwa website didefinisikan dengan baik dari mulai pencarian tanggal, jam, serta harga, hingga berakhir dalam suatu transaksi.

Pengguna yang percaya bahwa mereka telah menemukan pilihan terbaik untuk kebutuhan penerbangan mereka lebih cenderung melakukan transaksi atau pembelian.

Proses transaksi  harus dibuat sesederhana mungkin, menggunakan langkah seminimal mungkin,  dan memberikan semua bantuan yang diperlukan berupa penjelasan, pesan bantuan, dll.

Proses Pembayaran harus dibuat mudah, entah menggunakan kartu kredit, ATM, atau pun cara lainnya yang dibuat dengan tujuan memberikan kemudahan pada pelanggan.

4.       Menciptakan Hubungan

Setelah terjadi transaksi, terbuka peluang untuk mengembangkan komunikasi pemasaran berdasarkan data transaksi yang dibuat.

Akan tersedia data pelanggan mengenai motivasi di balik pembelian dan preferensi untuk berbagai layanan, persepsi merek, dll.

Maskapai akan bisa menawarkan produk-produk lain melalui newsletter, subscription, menawarkan keanggotaan frequent traveller, dll.

Website bisa digunakan untuk menciptakan hubungan sebagai sarana komunikasi antara pelanggan dan Maskapai untuk menciptakan hubungan timbal balik berupa pelayanan yang didapat oleh pelanggan dan keuntungan finansial yang diperoleh Maskapai.

5.       Market Positioning

Website ini mungkin telah dibuat semenarik mungkin,  tetapi jika sulit dicari di mesin pencari populer seperti google, yahoo, bing, dll sehingga tidak tercapai oleh calon pelanggan potensial, maka semua upaya ini akan sia-sia.

Data kunjungan website serta rasio antara kunjungan dan hasil penjualan atau transaksi yang terjadi melalui website perlu dimonitor untuk menjaga kualitas layanan serta melakukan perbaikan-perbaikan, jika perlu.

6.       Company Branding

Tampilan website harus mengekspresikan merek dan nilai-nilai Maskapai, mudah dikenal dan jelas.

Tampilan website harus merupakan bagian dari strategi komunikasi merek perusahaan secara keseluruhan.

7.       Kontribusi terhadap Keuntungan

Website ini bekerja sebagai saluran distribusi yang spesifik dan sebagai alat manajemen. Bisnis online bisa memberikan manfaat untuk mengurangi biaya manajemen yang dapat menjadi elemen kunci dalam meningkatkan profitabilitas perusahaan.

Manfaat-manfaat ini kemudian dapat dibagi dengan pengguna melalui sebuah “everybody wins” model, yaitu hal mendasar dalam pengembangan eBusiness.

Misalnya : Pengguna (B2C) melakukan transaksi pembelian tiket sendiri, memungkinkan Maskapai  untuk menghilangkan biaya-biaya komisi bagi agen penjualan, sebagai imbalannya pengguna akan mendapatkan layanan-layanan khusus yang hanya bisa diakses melalui website.

Semakin banyak orang yang mengunjungi sebuah website, semakin besar peluang terjadinya transaksi.

Advertisements

Sat, 31 Jul 2010 at 13:09 2 comments

Tips Membawa Hewan Peliharaan dengan Pesawat Terbang


Bagi sebagian orang, hewan peliharaan mempunyai arti penting, entah sebagai hewan kesayangan (anjing, kucing, burung) maupun sebagai aduan (burung, ayam jago).
Pada saat tertentu, hewan tersebut perlu untuk diangkut dengan pesawat terbang.
Ada 2 (dua) kategori bagi hewan hidup (Live Animal) jika hendak diangkut dengan pesawat terbang, yaitu sebagai:
1. Cargo
2. Bagasi
Pada prinsipnya, prosedur pengangkutan hewan hidup hampir sama pada Airlines yang ada di Indonesia, hanya saja mungkin ada Airlines yang tidak mengijinkan hewan hidup diangkut sebagai bagasi.

Yang patut diingat adalah pengangkutan hewan hidup baik sebagai cargo maupun bagasi pasti dikenakan BIAYA.
Berikut adalah Tips jika hendak membawa hewan hidup bepergian dengan pesawat terbang:

Cargo atau Bagasi ?

Penting sekali untuk menentukan apakah hewan kesayangan kita akan diangkut sebagai cargo atau bagasi, karena berhubungan dengan persyaratan dan biaya pengangkutannya. Biasanya prosedur penerimaan cargo lebih awal dari penerimaan bagasi, minimal 8 jam sebelum jadual keberangkatan pesawat. Dari sisi biaya, biasanya biaya cargo lebih murah dari biaya angkutan sebagai bagasi.

Informasi Airlines

Carilah informasi dari  Airlines perihal syarat dan ketentuan pengangkutan hewan hidup, karena tiap Airlines menerapkan ketentuan dan biaya yang berbeda mengenai pengangkutan hewan hidup. Jangan sampai kita berencana membawa hewan kesayangan kita berlibur, tiket sudah dibeli, tapi hewan kesayangan kita tidak bisa terangkut, karena Airlines yang akan kita tumpangi tidak mengijinkan hewan kesayangan kita diangkut sebagai bagasi.

Surat-surat

Hewan hidup yang akan diangkut dengan pesawat terbang harus dilengkapi surat-surat sebagai berikut:

1. Surat Keterangan dari Dokter Hewan yang menyatakan kesehatannya baik dan tidak mempunyai penyakit menular.

2. Surat ijin pengangkutan dari kantor Karantina setempat.

3. Surat pembebasan tanggung jawab (pada saat penerimaan di bandara).

Disarankan, lakukan pengurusan surat-surat tersebut minimal 1 (satu) hari sebelum keberangkatan.

Membayar Biaya

Yang terakhir adalah bersiap untuk merogoh kocek, karena biaya yang diterapkan biasanya bergantung  pada ketentuan Airlines yang bersangkutan. Yang jelas, jika diangkut sebagai bagasi, hewan hidup tidaklah termasuk pada hak bagasi cuma-cuma penumpang (baggage allowance), jadi meskipun kita tidak membawa bagasi, ataupun hewan yang akan kita bawa berbobot ringan, akan tetap dikenakan biaya.

Demikian Tips ini semoga berguna.

Have a Nice Flight

 

Tue, 20 Jul 2010 at 18:41 51 comments

Undang-undang Nomor 1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan


Undang-undang Nomor 1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan

Mon, 19 Jul 2010 at 18:28 Leave a comment

Tribute to Merpati Nusantara Airlines


Fri, 16 Jul 2010 at 21:05 Leave a comment

MA60 Armada Baru Merpati Nusantara Airlines


Wed, 14 Jul 2010 at 17:34 Leave a comment

Employees of an Airline


There are number of Airlines operated in Indonesia, with different  names, structures of organization, operations, but there is a certain amount of similarity among each airline. An airline’s most important assets are its airplanes and its people. An airline can have the most recent and best planes in the, but without the employees, an airline can’t do anything.

Airlines are most often represented in public by those employees who have the most contact with their passengers, such as pilots and flight attendants, but there are many more airline employees working behind the scenes. Larger airlines may employ more people, but the employee categories are generally the same no matter what the size of the airline.Here are the various types of employees in an airline:

  • Line personnel – This is the group of people you most often see during a flight, and they form 85 percent of an airline’s labor force. Line personnel include pilots and flight attendants, reservation clerks, airport check-in and gate personnel. Nowadays, some of duties of these line personnel, especially what so called ground handling (check-in, boarding gate, transfer desk, cleaning services, etc) are employed to subcontractors.
  • Operations – If line personnel form the heart of an airline, operations keeps it’s blood pumping. These people are responsible for scheduling aircraft and flight crews to man the aircraft. Operations personnel maintain guidelines to meet the safety and regulation standards. Included in operations are the dispatchers, who track all of the airline’s flights.
  • Maintenance – Airplanes are multi-million-dollar vehicles that must be maintained in order to prevent the airline from losing money. Aircraft only make money for the airline when they are transporting passengers. About 10 percent of an airline’s work force is dedicated to aircraft maintenance.
  • Sales and marketing – If you wonder who sets your prices, you can usually find them in the sales and marketing divisions of an airline. These people are also tasked with advertising, cargo sales, reservations, customer service and food service.

 

 

(Adopted from : Anatomy of an Airline, Kevin Bonsor)

Wed, 14 Jul 2010 at 15:32 Leave a comment

Marketing Strategy in the Midst of Stiff Competition of Domestic Airlines


In domestic  routes, the Badan Pusat Statistik (BPS) recorded the number of passengers as many as 43.77 million people or 22.77% increase compared with the previous 35.65 million people.  This is caused by the addition of aircraft fleet and capacity on major Airlines. Also because of the increasing demand of air transportation services, as it is considered more efficient and economical.

As economic growth in Indonesia began to increased, the traffic movement of people has also increased. There is a new paradigm that occurred in the domestic Airline business: the demand will increase in line with the addition of supply. We see the example with the entry in Garuda Indonesia fleet of B738 and B739 in Lion Air, the Seat Load Factors of two fleets is not less than 75% or  number of passengers onboard is 150 passengers per flight in average.

In the midst of tough competition, where nearly all the Major Airlines upgrading its fleet into large and sophisticated Aircraft to fly over the main routes. The strategy to survive of  this “Clash of the Titans”, is finding a market niche, looking unspotted but potential routes.

This unspotted but potential routes is a major route connecting the city with the cities of the developing suburbs. Some of the routes fact does not require huge investment, because of the limited runway on some city, then that could be used is a narrow body jet aircraft.

Some of potential routes could be considered are : Banjarmasin – Bandung VV, Banjarmasin – Solo VV, Balikpapan – Semarang VV, Balikpapan – Solo VV, Balikpapan – Bandung VV, Makassar – Bandung VV, Makassar – Semarang VV, Sampit – Semarang VV. And many other unspotted but potential routes.

Other strategy is “jetizing” existing commuter routes, use proper Jet aircraft fly the routes that usually fly by propeller aircrafts. This facts also requires the Jet Aircraft able to Take-Off and Landing on runways less than 1800 meters.

Commuter Aircraft fleet, used as feeder for Jet Aircraft fleet. The rotation diagram of the fleet must be inextricably interwoven.

To implement the above strategy to succeed, at least there are seven steps that must be followed:

1. Evaluate resources, goals, and objectives.

First things the Key Management may do is evaluating the business plan, determining a new paradigm, new goals, and new objectives, if necessary.

2. Identify market demand and market-segment opportunities.

Perform a complete market analysis of those “unspotted but potential routes”, dig deeper, look for hidden opportunities.

3. Match resources to selected market niche.

Start browsing the proper aircraft fleet required to fly over those routes, create the aircraft rotation diagram  match with the results of the demands.

4. Establish a marketing organization and strategy.

Setup a District and place a right person to be a District Manager who able to implement the marketing strategies established by head office.

5. Select intervention and penetration level.

Selecting intervention and penetration level must carried by all divisions and all levels. It is important to gather all resources from all division to focus on the goals that already determined. Team work is not just about coordination, more than that, is about one paradigm for all divisions and all levels of management.

6. Develop a long-range marketing plan.

This step is about how we maintain and improve the achievement.

7. Implement, monitor feedback, and respond.

As soon as market established, anticipate the new (coming) competition in the route that we pioneered.

Sun, 11 Jul 2010 at 20:09 Leave a comment

Older Posts


Author’s Profile

Archives

Merpati Nusantara Airlines